Bidadari Kehidupanku

January 11th, 2012

Mamaku sayang,

Aku tahu bebanmu sungguh berat ketika mengandung diriku. Karena saat itu akulah yang akan menjadi calon bayi pertamamu. Yang tentunya akan kau tunggu kehadirannya. Engkau pasti menjagaku dengan baik selama 9 bulan dalam rahimmu. Mengajakku bercengkrama meskipun aku masih mendekam dalam tubuhmu. Menjaga pola makanmu agar nutrisiku juga terpenuhi. Lalu kemudian kau perjuangkan nyawamu untuk membuatku menatap dunia ini untuk pertama kalinya.

Mamaku sayang,

Aku tidak bisa mengingat bagaimana perjuanganmu merawatku saat aku masih balita. Aku tidak tahu bagaimana engkau menenangkanku ketika aku menangis. Tapi hingga detik ini aku menuliskan surat padamu, aku tahu engkau begitu menyayangiku. Aku mungkin tidak mampu mengingat masa balita, namun aku masih merasakan kelembutan tanganmu yang mengusap peluhku. Aku mungkin tidak tahu lelahnya engkau menanggapi rengekan kecilku, tapi aku tahu luasnya kesabaranmu menghadapiku. Mama, kau begitu kuatnya menghadapi kenakalanku. Aku minta maaf jika menyusahkanmu kala itu.

Mamaku sayang,

Aku sudah masuk sekolah dasar saat itu ketika kau memberiku hadiah yang indah, yaitu seorang adik. Aku melihat sendiri bagaimana kau menyiapkan makanan yang terbaik untuk adik. Lalu dengan senyum hangatmu, kau menimang adik sambil menyuapinya. Aku tersadar, dulu kau lakukan itu kepadaku juga. Dan begitu inginnya aku memelukmu sambil mengucapkan rasa terima kasih ini. Aku selalu panjatkan doaku agar engkau selalu bahagia.

Mamaku sayang,

Aku berharap agar diri ini cepat besar sehingga bisa membantu meringankan deritamu. Bagaimana mungkin aku tega melihatmu membesarkan kami sambil bekerja. Engkau selalu berangkat pagi sembari menyiapkan sarapan untuk kita. Lalu kau pulang saat senja sudah tersenyum di langit. Bahkan tak jarang saat bulan sudah mengedipkan matanya pada bintang-bintang. Aku begitu ingin melihatmu duduk dirumah menunggu papa pulang kerja. Meskipun sangat nyaman melihatmu bergandengan tangan dengan papa saat pulang kerja bersama. Aku ingat engkau membentangkan tangan untuk menyambut kami yang berlari kecil hendak memelukmu. Tak pernah kulihat lelahnya dirimu saat bersama kami.

Mamaku sayang,

Aku ingat betul kecemasanmu menjelang ujian kelulusan sekolah dasarku. Aku memang akan beranjak dewasa saat itu, hendak masuk sekolah menengah pertama. Aku sangat senang ketika kau mengambil cuti dari kantor untuk mengantarku ke sekolah. Juga ketika malam hari kau temani diriku membaca buku pelajaran yang menjenuhkan. Ketika itu kau membuat cemilan kecil agar aku mau meneruskan belajar. Sungguh aku beruntung dilahirkan ke dunia ini dari rahimmu. Engkau begitu memperhatikan diriku walau aku tahu betapa lelahnya dirimu. Aku akan memberikan sedikit kebanggaan untukmu dengan prestasiku.

Mamaku sayang,

Aku berhasil membuatmu bangga. Engkau terlihat begitu bahagia saat tahu aku masuk sekolah unggulan dengan nilai yang memuaskan. Aku senang sekali pelukan bahagiamu menghangatkan tubuhku. Ada setitik airmata yang terlihat disudut matamu. Aku sedikit khawatir saat itu, takut aku tanpa sengaja melukaimu. Tapi aku sadar, itu airmata bahagia karena prestasi ini. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu.

Mamaku sayang,

Tidak terasa aku sudah 17 tahun saat itu. Semua orang begitu heboh dengan euforia sweet seventeen. Tapi untukku, usia ini berkat dirimu. Maka dari itu aku mengucapkan terimakasihku padamu. Tanpa perjuanganmu, aku tak mungkin ada di dunia. Tanpa bimbinganmu, aku tak mungkin dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Tanpa senyummu, aku tak mungkin mampu menghapus tangisanku ketika aku kalah dalam berlomba. Tanpa kesabaranmu, aku tak mampu melewati kejamnya kehidupan ini. Tanpa doamu, aku tak mungkin berhasil disetiap kegiatanku. Tanpa candamu, aku tak mungkin terhibur apabila sedang murung. Tanpa kerja kerasmu, aku tak mungkin dapat makan cukup dan mengenyam pendidikan. Engkau dan papa begitu berartinya dalam kehidupanku.

Mamaku sayang,

Kini aku sudah 20 tahun mengarungi perjalananku. Aku harus merantau ditempat yang jauh dari rumah kita. Aku tak bisa bertemu setiap hari denganmu. Mama, aku ingat ketika kau menangisi kepergianku kala itu. Aku ingat setiap detailnya bagaimana kau memelukku sambil mengucapkan doa untuk diriku. Aku merasa sangat tersiksa dengan siklus kehidupan baruku tanpamu disisiku. Tapi aku selalu merasa dekat denganmu, karena ikatan darah kita. Dan aku pergi ini untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, untuk membanggakanmu, untuk membuktikan padamu aku bisa.

Mamaku sayang,

Betapa ingin aku mengumpulkan setiap bunga dari tiap negara untuk aku persembahkan padamu, agar kau tahu wangi kelembutanmu melebihi seluruh bunga itu. Aku ingin meneriakkan pada dunia bahwa kau wanita tercantik yang aku miliki. Kau layaknya bidadari dalam kehidupanku yang singkat ini. Seumur hidupku akan ku persembahkan untuk membahagiakanmu. Walau aku tahu semua itu tak akan cukup membayar segala pengorbananmu, aku hanya tahu bahwa pengabdian tulusku akan menyenangkanmu. Aku hanya tahu bahwa kau akan bahagia melihatku berusaha dan berdoa. Aku hanya tahu bahwa kau begitu menyayangiku. Bekal kehidupan yang kau berikan pasti akan berguna untuk rajutan hidup ini. Mama, terimakasih atas semua kasih sayangmu. Maaf yang terdalam dariku jika aku pernah menyakiti dan mengecewakanmu.

Mamaku sayang,

Aku ingin engkau tahu, aku sangat bangga mempunyai ibu sepertimu. Aku ingin menjadi alasanmu untuk tersenyum. Mama, tunggulah perjuanganku untuk dirimu. Selalu doakan aku untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan. Dan Tuhan, tolonglah jaga mamaku sampai akhir hayatnya kelak. Aku cinta padamu, Mama…

sudah terbit di #dearmama

buku ke-9

Cerpen : Hembusan Nada Cinta

October 20th, 2011

Cerpen berikutnya.. Alhamdulillah aneh -_- hahaha

Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap

“Perasaan gue ke lu itu ga biasa tapi juga ga heboh”, jawab Moria dengan tenang. Matanya yang membulat sempurna hanya mampu dipandangi Griselda dalam diam. Selda, begitu biasa dia dipanggil, mencerna kata-kata itu perlahan. Dia masih belum menemukan arti yang pas dari jawaban itu. Tangannya bergerak-gerak gelisah. Rasa grogi menjalar ke sekujur tubuhnya. Sungguh tindakan yang bodoh. Bisa-bisanya dia menanyakan perasaan Moria terhadapnya secara langsung seperti ini. Tapi ingin sekali dia meminta Moria menjelaskan arti jawaban tersebut.

Moria tampak bergeming. Selda mengangkat wajahnya yang menghadap tanah untuk melihat sekali lagi ke mata seseorang yang dikaguminya sejak lama tersebut. Selda mencari jawaban itu, mencari kata yang tepat untuk mengartikannya. Mata dihadapannya memaparkan ketulusan hati pemiliknya. Cerah sekali pandangan Moria, tidak sedikitpun tampak berkabut. Seolah-olah jika kita memandang lurus kedalam matanya, kita tentu akan menemukan segalanya yang kita cari. Namun kali ini, mungkin Selda terlalu kalut untuk dapat menemukan jawabannya.

Bila malam tlah datang
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan

Jawaban dari Moria tadi sungguh mengganggu konsentrasi Selda malam ini. Buku diary kesayangannya tak mampu mengungkapkan dengan pasti bagaimana perasaan itu semakin meluap. Banyak hal-hal yang sulit diungkapkannya ke dalam kata-kata. Kertas yang berisi sketsa pemandangan bertebaran diatas kasurnya. Gambar itu buatan Moria khusus untuk Selda. Ada yang menggambarkan suasana pantai, sawah, gunung dan rumah kecil di pedesaan. Yang paling Selda suka adalah sketsa ayunan di sebuah halaman. Mengingatkannya pada saat pertama kali mereka berdua berdekatan. Dari yang saling membenci karena takut tersaingi nilai saat SMP, sampai saat ini ketika Selda merasakan kenyamanan berada didekat Moria. Pepatah pernah berkata bahwa cinta itu berawal dari benci. Mungkin inilah yang terjadi diantara Selda terhadap Moria.

Pandangan mata Moria yang sejuk masih terbayang ketika 1 tahun yang lalu mereka bertemu kembali disebuah toko buku. Kala itu Selda hampir saja pulang lagi dan membatalkan janji untuk menemani Moria mencari buku. Mereka sudah tidak bertemu lagi semenjak kelulusan SMP. Itulah yang membuat Selda ragu, takut akan hal yang tidak dimengerti bahkan oleh dirinya sendiri. Mereka sudah kelas 2 SMA saat itu, ketika pertemuan di toko buku menjadi awal kedekatan mereka. Awal dari getar-getar halus yang menyusup relung hati Selda saat menatap mata itu.

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa

Selda mengenang kembali satu tahun bersama Moria. Tak terasa sekarang mereka sudah kelas 3 SMA. Moria memberitahunya bahwa dia akan melanjutkan kuliah di Bandung. Belum apa-apa Selda sudah merindukan Moria. Padahal kelulusan masih 3 bulan lagi, yang berarti ada waktu selama 4 bulan untuk bertemu secara langsung dengan pujaannya. Dia tak ragu lagi sekarang, rasa itu memang telah tumbuh. Sesegar rumput di pagi hari dan semerbak bunga yang bermekaran. Satu hal yang mengganjal hatinya adalah bagaimana perasaan Moria terhadapnya. Meskipun takut bertepuk sebelah tangan, Selda memberanikan diri bertanya. Moria dan dirinya sedang makan malam di restoran cepat saji. “Perasaan gue ke lu itu ga biasa tapi juga ga heboh”, begitulah jawaban Moria yang sudah dia hapal diluar kepala saking dipikirkannya kalimat tersebut.

Selda mengetahui pasti, sekalipun Moria tak punya perasaan sayang seperti yang dia rasakan, Selda pasti tetap merindukan Moria sebagaimana mestinya. Selda terbiasa menerima ucapan selamat pagi sampai selamat tidur dari Moria. Pangeran impiannya itu juga suka menyempatkan diri bermain kerumahnya serta sesekali pergi hangout bersama. Dia ingat saat dibonceng Moria disebuah jembatan layang yang panjang dan cukup tinggi. Kala itu bintang banyak bertaburan dan jari telunjuk lelaki itu mengarah ke langit. Selda menatap arah tersebut lalu memekik takjub. Moria tersenyum puas menatap kekaguman Selda kepada bintang.

Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimu
Namun sulit ku membenci

Tanpa sadar Selda menitikkan airmata. Kenangan indah itu menguatkan hatinya dan menghancur-leburkan urat malunya. Dia pikir Moria akan menyatakan cinta atau minimal mengakui perasaannya dengan lebih terbuka. Tidak seperti sekarang yang berbelit. Dirinya benar-benar kecewa. Merasa ditipu dengan kebaikan Moria yang dia pikir karena Moria ada rasa untuknya. Selda ingin sekali membenci Moria seperti saat SMP. Saat dimana Selda merasa bahwa Moria adalah saingan terbesarnya untuk memperoleh nilai baik. Selda hampir saja menutup matanya yang lelah akibat menangis, sebuah dering sms masuk. Dengan malas Selda merogoh bawah selimutnya dan membuka pesan masuk tersebut. Selda langsung terdudu membacanya.

“Selamat malam, semoga mimpi indah

<3 you”

Pernyataan cinta dari Moria!

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada disatu
persimpangan jalan yang sulit kupilih

Setelah membaca sms dari Moria itu Selda tidak langsung menjawab. Tangannya bergetar dan pikirannya melayang tinggi. Itukah arti dari jawaban Moria tadi? Selda merasa pikirannya berkecamuk. Segala macam emosi dia rasakan dari senang, kesal dan cinta berputar-putar indah. Serasa ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya. Bergejolak seiring rasa senangnya. Tanpa sadar Selda tersenyum sangat lebar. Ingin rasanya dia berjingkrak-jingkrak meluapkan rasa bersyukurnya. Lalu keinginan itu terhenti ketika ada telepon masuk ke handphone-nya, dari Moria!

“Halo”, suara lembut disebrang sana membuka percakapan.

“Eh hai”, gugup Selda menjawab.

“Belum tidur yah? Lagi apa?” pertanyaan itu membuat Selda ingin berteriak bahwa dia sedang ingin melompat girang karena mempunyai perasaan yang sama dengan Moria. Tapi tentu saja Selda tidak mengatakannya.

“Lagi nulis, kaya biasa”, dengan gaya stay cool Selda menjawabnya. Diujung sana sebenarnya ada senyum manis mendengar jawaban itu.

“Selda, would you be mine? Kalau kamu katakan iya, berati kamu siap ngarungin semuanya bareng aku”, tegas Moria mantap. Selda tidak langsung menjawab. Dia tentu saja mau mengarungi apapun bersama Moria, asal bersama Moria.

“Iya aku mau”, Selda menjawab malu. Disebrang sana tidak ada lagi suara. Lalu sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya itu. Moria akan datang kerumahnya. Pukul 9 malam hanya untuk bertanya secara langsung mengenai ajakan berpacaran tadi! Selda menunggu dengan sabar dan tak hentinya tersenyum. Dua jam tanpa terasa berlalu dan sudah terlalu larut untuk berkunjung apalagi menyakatakan cinta. Ditengah kepanikannya itulah sebuah telepon masuk.

“Nak, ini Mamanya Moria. Dijalan tadi Moria kecelakaan. Moria sudah ga ada sayang, huhu”, tangis pecah dari ibunda Moria membuat kepala Selda pening dan berdenyut-denyut. Pandangan disekelilingnya buram, menghitam dan menghilang.

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang ku rasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh diriku

Kini, Moria sudah tidak lagi disisinya. Tapi kenangan Moria dan hari pertama mereka jadian selalu terkenang. Para pelayat sudah mulai pulang. Hanya Selda dan ibunda Moria. Kalimat singkat dari sang bunda membuat langkah Selda pasti untuk beranjak pulang ke rumah.

“Kamu harus jalanin hidup kamu ini, karena Moria sayang banget sama kamu. Lakuin untuk hidup dia yang sudah terkubur ditanah itu. Terus tersenyum dan berbahagialah…”

I’m promise“, bisik lirih hati Selda sebelum dia melangkah meninggalkan tanah pekuburan yang masih merah sehabis digali.

cerpen : cinta dan luka

October 20th, 2011

Lagi dan lagi, ku buat lagi cerpen untuk hari ini :D

Rose menangis tertahan. Dia sangat mengusahakan agar segukan tangisnya tidak memecah keheningan yang sudah mencekam. Dia tidak sendirian dikamar itu, masih ada Tian yang sedang menatapnya dengan pandangan misterius. Entah sudah berapa kali dalam setahun ini mereka bertengkar. Entah sudah berapa liter airmata yang menyeruak hadir. Entah sampai kapan emosi meluap-luap ini bisa dikendalikan. Entah kekebalan macam apa yang membuat mereka terus bertahan dalam hubungan ini. Semuanya seolah berkabut, tak menemukan jawaban pasti.

“Kamu maunya gimana sekarang?”, tanya Tian membuka suara. Ditatapnya gadis yang dia pacari selama lebih dari setahun itu. Mata yang biasanya terlihat ceria dan bersinar kini dirundung duka. Sisi hatinya terluka melihat wajah ceria itu dibasuh airmata yang tak hentinya jatuh satu per satu. Ingin dia peluk gadis itu dalam rengkuhannya. Membiarkannya menangis sesuka hati. Tetapi amarah itu masih bergejolak didadanya. Bergemuruh seperti hujan badai yang mampu menerjang karang sekalipun.

x-x-x

Dua jam yang lalu Rose datang ke kamar kosannya dengan senyum sumringah seperti biasa. Dia datang membawakan makanan yang sudah dijanjikannya tadi saat sms-an. Dua bungkus nasi uduk dengan opor ayam yang masih hangat. Semenjak menjalani kuliah tingkat 2, mereka sering menyempatkan waktu untuk bertemu. Sudah tidak ada lagi kesibukan seiring menurunnya tugas dari dosen sehingga mereka bisa saling mengunjungi. Seperti hari ini, di Sabtu pagi yang cerah. Rose mengetuk pintu perlahan.

“Tadaaa!”, sambut Tian dengan senyum lebar. Rose memukul bahu Tian pelan, kebiasannya jika Tian melakukan hal konyol. “Ayo masuk”, ajak Tian sambil menggenggam tangan Rose. Diperhatikannya gadis tersebut sedang tersenyum malu hingga menampakan lesung pipinya. Rose memilih duduk dekat kasur dan mengusap peluhnya. Tian menyodorkan gelas berisi air putih yang tentunya diperlukan Rose setelah capek menempuh jarak beberapa kilometer menggunakan angkutan umum. Perjalanan panjang tak begitu berarti jika sudah bertemu sang pujaan.

“Kamu punya film baru lagi?”, tanya Rose melihat Tian menyalakan komputernya. Sudah menjadi rutinitas mereka untuk menonton bersama. Film-film bioskop di download khusus agar setiap bertemu mereka bisa menonton film baru maupun film lama yang mereka sukai.

“Iya, film The Smurf. Mau nonton kan?”, goda Tian. Rose mendengus, tapi senyum kecil menghias bibirnya. Film dimulai dengan alunan lagu ceria happy song dari para Smurf. Rose meyandarkan kepalanya ke bahu Tian. Dengan sayang Tian mengusap puncak kepala Rose. Lalu sebuah sms masuk dari handphone Rose. Karena asyik menonton Rose masih anteng menatap para Smurf berpetualang. Tangan Tian menggapai Galaxy Mini tersebut. Keningnya berkerut dan tubuhnya mengejang. Rose menyadari itu lalu bangkit menatap wajah Tian yang sudah mengeras.

“Apa maksudnya ini?”, tanya Tian dingin. Disana terdapat sms dari contact bernama Naeem. Isinya : ‘Jangan lupa makan yaa J’. Sebuah pesan singkat namun membuat Tian geram. Tian tahu dengan pasti bahwa Naeem mempunyai rasa yang lebih terhadap pacarnya ini. Dan sayangnya Rose terlalu ramah pada orang lain sehingga kemungkinan Naeem salah mengartikan kebaikan Rose. Kini Rose hanya membungkam mulutnya. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Jemari Tian menyusuri handphone itu dengan seksama. Lagi! Dia menemukan sms Naeem 1 jam yang lalu, sebelum Rose sampai dikosan Tian. Sms itu mengatakan agar Rose berhati-hati menuju kos Tian. Bahkan diakhir kalimat Naeem menawarkan akan menjemputnya jika Rose pulang nanti.

“Masih juga sms-an sama dia?”, Tian mengacungkan telepon genggam itu dengan sikap skeptis. Wajah Rose mendadak ketakutan. Gadis itu paling lemah mendengar dirinya dibentak. Tian memang cukup kencang menanyakan kehadiran sms tak diundang itu.

“Iya”, aku Rose jujur. Tak ada gunanya berbohong. Apalagi dengan kondisi Tian yang sedang marah seperti itu. rose hanya menunduk menyembunyikan bulir airmata yang siap turun dari matanya. Naeem memang cukup dekat dengannya. Hal itu karena mereka satu kampus dan satu jurusan. Berbeda dengan Tian yang beda kampus bahkan hampir beda region segala. Ibarat dari ujung ke ujung. Naeem-lah yang lebih sering menemaninya. Dan Naeem lebih ramah dari pacarnya sendiri.

“Kamu suka sama dia?”, pertanyaan Tian yang menusuk membuat Rose tersentak. Tidak terpikir sedikitpun Rose mengkhianati cinta Tian yang begitu dikenalnya dari kecil. Tatapan Tian sungguh sangat menusuk. Rose tidak menyadari airmatanya yang jatuh perlahan. Begitu syok dengan pertanyaan menuduh seperti itu. Begitu kaget dengan sikap Tian yang berlebihan seperti itu.

Tian mendengus kesal melihat Rose yang menangis. Baginya, airmata itu karena akibat ketahuan sms-an dengan Naeem. Keberanian muncul dibenaknya. Tangannya dengan cepat menekan dial ke nomor Naeem. Tak perlu menunggu lama untuk membuat Naeem mengangkat telponnya. Mungkin dia akan mengira bahwa rose yang meneleponnya.

“Halo Rose, ada apa? Mau dijemput?”, suara disebrang sana terdengar riang. Tian menggertakan gigi.

“Ada perlu apa lu sms cewek gue terus?”, tembak Tian langsung ke pointnya. Suara disana terdiam lama. Rose menyadari kalimat barusan bukan untuknya dan mendapati Tian sedang menelepon seseorang. “Oh Tuhan!” seru Rose dihatinya. Dia tak menyangka Tian akan senekat itu. Dengan sigap Rose menggapai hendak mengambil telepon genggamnya. Tian lebih tangkas untuk menjauhkan handphone itu dari Rose.

“Balikiiiin”, Rose memelas kalut. Dia tak ingin ada perkelahian akibat sms yang menurutnya sungguh sepele. Dia tahu dia salah masih menanggapi Naeem dengan keramahannya. Satu-satunya yang pantas untuk dipertanyakan adalah dirinya, bukan Naeem. Yang patutnya disalahkan adalah dirinya!

“Halo, halo. Rose. Kamu ga diapa-apain kan disana? Rose, halo Rose”, seketika Naeem terdengar panik. Naeem begitu khawatir, dari nada suaranya tersimpan berbagai emosi yang meluap. Sama halnya dengan emosi Tian. Dengan kasar Tian menekan tombol loudspeaker agar Rose dapat mendengar sendiri percakapan mereka. “Rose apa perlu gue kesana? Halo, halo”, tambah Naeem tidak sabar.

“Lu pikir gue bakal nyakitin Rose?”, gemeletuk gigi Tian begitu keras saking menahan emosinya. Rose terduduk tak melawan lagi. Menjadi pendengar mungkin bukan sikap yang tepat, tapi apalagi yang bisa dia lakukan? Terbayang olehnya sikap Tian yang sering meledak tak karuan jika sedang marah. Setelahnya Tian akan meminta maaf seolah semua caci makinya, semua unek-uneknya, semua perkataanya yang menyakitkan tidak pernah ada. Tian selalu meminta maaf. Hal yang baik untuk dilakukan. Tetapi Rose tidak mudah mengenyahkan wajah penuh kebencian Tian yang ditujukan padanya. Belum lagi perkataan Tian yang menyudutkan dirinya. Selalu ingin menang sendiri. Itulah yang membuat Rose makin menangis sekarang.

“Disana Rose pasti ketakutan. Dia pernah bilang kalau dia selalu khawatir dan ketakutan deket lo karena lo sering marah ke dia. Dia bertahan sama lu karena dia sayang lu. Tapi lu sakitin dia terus. Dia nangis kan sekarang?!”, Naeem tak kalah emosinya dari Tian. Mendengar jawaban mengejutkan itu, pandangan Tian beralih pada gadisnya dipojokan kanan kamarnya. Gadis itu duduk membelenggu diri sambil memeluk lutut. Airmata jatuh perlahan dari matanya yang cokelat cerah.

“Cukup! Jangan ganggu pacar gue lagi”, Tian memutuskan untuk memutus sambungan telepon itu. tapi kalimat terakhir yang langsung dijawab Naeem membuat Tian tersentak.

“Gue ga ngambil dia dari lu. Tapi kalau lu nyakitin dia terus, gue bakal rebut dia dari tangan lu, dihadapan lu!”, ancam Naeem lalu sambungan terputus. Tian mengamati gadisnya yang masih gemetar. Pikirannya melayang jauh pada perbuatannya yang memang temperamen. Rose begitu sabar dan tegar berada disisinya. Penyesalan menyusup jauh ke sanubari Tian. Merasa berdosa.

x-x-x

Pertanyaan Tian mengenai kemauannya baru kali ini Rose dengar. Tian tampak melemah. Dia begitu rapuh. Tak ada lagi bekas amarah dimatanya. Rose merasakan keletihan yang luar biasa. Baginya, Tian sudah keterlaluan. Meskipun mereka sudah pacaran lama, bukan berati Tian boleh seenaknya membaca inbox Rose. Bahkan sampai menelepon Naeem dan memakinya begitu saja. Sebenarnya Rose tahu betul bahwa Naeem menyayanginya tetapi cinta Rose yang begitu kuat pada Tian membuat Rose sudah membatasi diri. Naeem hanya sekedar teman biasa. Entah mengapa begitu mudah Rose bercerita kisahnya pada Naeem.

“Kamu ga seharusnya begitu. Naeem ga salah apapun. Dia cuma mau membantu aja”, bela Rose pelan. Tian bergejolak lagi, berkali-kali mencoba membuat nafasnya teratur, tidak lagi memburu.

“Mau belain dia? Kalau kamu terus baikin dia, bisa aja dia ge-er dan ngejar-negjar kamu. Huh, malah mungkin sedang ngejar cinta kamu. Kamu seneng kan bareng dia. Sampai curhat segala”, ujar Tian angkuh.

“Aku sayangnya ke kamu Tian”, rajuk Rose lemah. Tak ada daya upaya lagi yang bisa dia perjuangkan untuk memberitahu Tian sebesar apa cintanya. Tian seolah tutup mata dan tutup telinga. Maka Rose melanjutkan kata-katanya, “Tiap kamu marah, kamu selalu bawa hal-hal yang ga ada. Kalau kamu sangka dia ngejar aku, mungkin ada benarnya. Tapi ga sedikitpun aku punya perasaan lebih ke dia”, tandas Rose meyakinkan. Tian diam, tak berkomentar lagi. Rose beranjak bangkit dan berdiri.

“Mau kemana kamu?”, tanya Tian heran dengan gerakan Rose.

“Aku mau pulang”.

“Oh gitu, mau dijemput sama Naeem kan?”, tuduh Tian sadis. Rose menatap tak percaya pada Tian. Mata gadis itu membelalak besar. Terkejut akan tuduhan tanpa bukti tersebut. Darah seolah mengalir deras di kepalanya. Rose menghapus kasar airmatanya. Dia begitu mencintai Tian, tapi mungkin sekarang dia harus belajar melupakannya. Baginya cinta bukan sekedar saling mencintai tetapi juga menghargai dan mempercayai. Dua hal itu tak nampak lagi pada pacarnya. Benar-benar menyedihkan.

“Kamu jahat banget nuduh aku gitu”, bergetar Rose mengucapkan itu. Tian mengamati kepergian Rose. Belum apa-apa dia sudah kehilangan. Semburat cinta Rose begitu terasa disaat gadis itu sudah melangkah keluar. Tian berharap Rose kembali. Tapi gadis itu tak kembali, juga tak menoleh lagi. Sadarlah Tian bahwa dia melakukan kesalah. Tian ingin berteriak meminta Rose menghampirinya lagi.

“Rose, maafin aku. Aku ga akan begitu lagi. Aku akan tahan emosi aku”, tapi seharusnya Tian tahu, Rose mungkin sudah lelah dengan kalimat itu. Kalimat yang selalu ada diakhir pertengkaran mereka kesekian kali. Tentu Rose hapal betul kalimat itu. Pernah sekali Tian menemukan kertas kecil yang kini tersimpan manis di dompet Tian. Tulisan indah Rose yang menulis “I Love the way you lie”, dengan taburan gambar hati kecil-kecil. Tulisan dari hasil letih yang luar biasa untuk mencintai kebohongan Tian yang berkata bahwa dia tak akan marah lagi. Rose tahu itu hanya iming-iming belaka. Maka dari itu dia mencintai kebohongan itu. Karena itu berarti mereka saling memaafkan dan mereka kembali ke rajutan kisah yang sama. Dengan akhir perkelahian yang sama. Dengan luka dan derita yang serupa. Panas membakar tubuh, bergejolak melawan antara kebencian dan cinta. Yang pada akhirnya berujung pada nestapa dari jalan setapak yang ditinggalkan Rose saat kepergiannya.

Cerpen : Aku Juga Milikmu

October 19th, 2011

Gak tahu pede darimana, yang jelas ni cerpen udah terlanjur dikirim ke nulisbuku.com :(( semoga besok” makin baik cerpen gue. AMIN. . .

“Lu kok gitu sih? Anak-anak yang lain aja pada diajakin pergi, tapi gue enggak!”, gerutu Dela pada pacarnya, Rizky, via sms. Mukanya berlipat walau disana pacarnya tak akan dapat melihatnya. Rasa amarah begitu membuncah di dadanya. Setidaknya mengapa harus ada Lala disana, minimal dia diberitahu dahulu bahwa Rizky hendak jalan. Dela berkali-kali berusaha memaklumi kedekatan yang terselubung kabut halus diantara Rizky dan Lala. Mereka bertiga berada dikelas yang sama dijurusan perhotelan SMK Pariwisata Bandung dan jelas dia pacar satu-satunya Rizky. Tetapi mengapa Dela tak pernah mampu menembus kabut itu, yang membuat Lala semakin dekat saja dengan pacarnya. Sudah berkali-kali seperti itu berulang dalam pertengkaran mereka. Kali ini Rizky tidak mengajaknya jalan sedangkan teman-teman mereka yang lain ditelepon untuk ikut serta. Jelas saja Dela sewot.

“Lah terus kenapa lu marah? Terserah lu aja, gue cape tau”, sembur Rizky tak kalah sengit. Rizky cape menjadi pihak yang selalu disalahkan. Menurutnya pacaran itu bukan berarti dia harus ada 24 jam untuk Dela. Namun gadisnya itu tak kunjung mengerti. Semakin kesini malah semakin aneh saja amarahnya. Selalu hal yang menurutnya terlalu sepele untuk dipermasalahkan. Soal kedekatannya dengan teman-teman ketimbang Dela atau karena Rizky jarang sms apalagi telepon. Jenuh dan penat. Pergaulannya terasa dibatasi. Hanya satu yang bisa dia ingin sekali dia lakukan malam ini. Lekas tidur dan berharap pagi cepat menyingsing agar bayangan Dela segera musnah dari pikirannya.

x-x-x

Kesokan harinya dikelas, Mutia yang selalu ceria menyapa teman-temannya. Semalam setelah jalan dengan Rizky, Lala, Rose, Stefanus, dan Bisma yang notabene adalah teman sekelasnya, maka dengan santai dia heboh menceritakan cerita malam itu pada Diah. Sayang Diah tak bisa ikut karena sedang sakit. Malam itu dicanangkan untuk belajar bersama agar mereka bisa mengerjakan UTS yang dilaksanakan mulai besok. Namun karena mendahulukan mengisi perut alhasil mereka malah seperti jalan-jalan malam dan lupa untuk belajar. Suara nyaring Mutia membelah kesunyian, “Eh Bisma, kamu kok masih aja genit ke Rizky, belum cukup apa semalem godain dia”, tawa gadis itu riang. Diah tersenyum maklum karena pada dasarnya Mutia memang selalu heboh. Bisma diujung sana tersenyum malu-malu kucing. Tak satupun di kelas ini yang beres otaknya, semuanya sableng dan kurang waras.

Dela mendengar kalimat itu. Hatinya kembali mendidih. Entah mengapa perasaan tidak rela menjalar dengan cepat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kesinisan tak dapat lagi dia sembunyikan. Samar-samar didengarnya Mutia melanjutkan “… si Lala noh enak banget. Kita bertiga kayak apa aja, udah berkerudung tapi kaliannya yang rusuh”. Tanpa sadar Dela menimpali kalimat itu. “Yaudah sih, jangan dibahas mulu juga tentang semalem”, sambil memutar bola matanya. Mutia tampak terkejut, tapi Dela tak lagi mempedulikannya. Sudah cukup baginya sayatan demi sayatan luka dari kedekatan Lala dengan Rizky yang semakin menjadi-jadi, kini baginya tak boleh ada celah untuk menyakiti hatinya lebih dalam lagi.

Dela memperhatikan Lala yang sedang bercengkrama dengan Rose. Mereka tampak berbahagia saling bercerita. Lalu sekilas Rose menoleh kearahnya dan tersenyum. Dela membuang wajahnya, tak ingin disapa lagi oleh kedua temannya itu. Lala dianggapnya sebagai saingan. Bahkan pernah terpikir oleh dirinya bahwa seolah Lala yang merupakan pacar resmi Rizky sedangkan Dela hanyalah pacar rahasia. Pikiran itu belum seutuhnya musnah. Terlihat dengan jelas bahwa pacarnya itu lebih mengakui Lala ketimbang dirinya. Menyakitkan memang, tapi cintanya pada Rizky yang membuatnya mempertahankan hubungan ini.

“Mau ikut makan ga lu?” tanya Rizky yang tiba-tiba saja sudah berada disampingnya. Dengan sedikit gelengan lemah dia menjawab pertanyaan itu. “Yakin ga mau makan nih?”, desak Rizky tak sabar. Dela sempat menarik nafas panjang dulu sebelum mengatakan “Iya”, yang tetap saja terdengar sangat ketus. Lalu dengan mudahnya Rizky berlalu. Tak usah ditebak kemana pacarnya itu akan melangkah. Dela mempertajam pendengarannya, ingim tahu apa yang dikatakan Rizky, Lala dan Rose.

Rose adalah temannya yang sangat rapi dalam bersikap. Gadis itu hanya berbisik yang disertai gelengan dari Rizky dan sempat menatapnya sekilas sebelum keluar duluan. Lala mengamit lengan kiri Rizky sedangkan Rose berjalan disamping kanannya. Dela pasrah, tak tahu lagi harus mengatakan apa. Kedekatan Rizky dan Lala adalah misteri baginya, namun kedekatan Rose terhadap pacarnya itu lebih aneh lagi karena mereka selalu berbisik jika berbicara. Seperti menyimpan jutaan rahasia yang teramat penting sehingga mereka perlu menutupi percakapan mereka dengan sangat rapi.

x-x-x

Ditempat makan, anak-anak jurusan perhotelan SMK Pariwisata Bandung itu telah berkumpul. Suara riuh rendah mereka yang berebut ingin dilayani duluan sangat kacau dan memekakkan telinga. Senda gurau mereka lontarkan untuk menghilangkan penat. Tidak semuanya hadir dalam warung Ibu Eka tersebut. Didalamnya hanya ada Rizky, Lala, Rose, Bisma, Indri, Riyo, Stefanus, Abi dan Agam. Setelah semua mendapatkan makanan dan duduk ditempat masing-masing, hanya ada obrolan singkat diantara mereka.

“Eh cewek lu mana?”, tanya Riyo pada Rizky. Masih dengan menyuap nasi Rizky menjawab dengan mengangkat bahu. Mulutnya masih penuh dengan makanan, tapi tak urung dijawabnya juga. “Dia ga mau makan, katanya udah makan”, jawab lelaki gendut itu. Tak ada yang istimewa dari Rizky. Cuma lelaki biasa yang mempunyai kemampuan untuk berdebat, gampang bergaul dan autis. Autis disini adalah otaknya yang terkadang seperti anak autis yang susah diberitahu kebenaran sikap.

“Lah lu mah ceweknya ditinggalin mulu”, timpal Rose datar.

“Tau lu, Ky. Kasian tau dia”, Indri ikutan berkomentar.

“Oia dia ga marah tuh semalem ga lu ajak?”, tanya Lala kemudian. Rizky menggelengkan wajah seolah meminta mereka semua menunggu jawabannya selagi Rizky menelan makanannya.

“Dia ngambek kayak biasa, tapi gue mah bodo amat”, akunya jujur. Yang lain tampak gusar dan membuang muka. Memang keterlaluan Rizky, lebih mengutamakan teman ketimbang pacarnya sendiri. Ada kalanya itu baik dan berguna tetapi tiap kali teman-temannya yang terkena semburat cemburu Dela yang tak masuk akal itulah yang membuat mereka tidak betah dan malas dekat dengan Dela. Terkadang semua kebagian kesinisan dan kekesalan Dela yang seharusnya dia tujukan pada Rizky.

“Ya salah lu juga sih, udah ditanya juga semalem kenapa ga diajak”, balas Rose. Lala membenarkan kalimat tersebut. Begitu pula Indri dan yang lainnya yang mendengar pernyataan Rose.

“Efisiensi waktu. Lu pada kan searah sama gue, jadinya gue ajak kalian. Itu acara dadakan, ya kan Ma”, Rizky meminta persetujuan Bisma. Malam itu memang acara dadakan hanya karena mereka berdua ngidam iga.

“Abis ini lu omongin sama dia deh, gue cape liat lu begini”, ujar Lala santai. Dan dari raut wajah Rizky yang sedikit melembut menandakan bahwa keduanya akan berbicara nanti.

x-x-x

“Lu masih sanggup ga hadepin gue?”, todong Rizky sesampainya dikosan. Sekarang hanya tinggal dia dan Dela. Gadis itu masih saja merenggut marah dan kesal. Dicobanya untuk tidak naik pitam dengan melihat wajah pacarnya yang selalu ditekuk dan melancarkan aksi tutup mulut. Akhirnya Dela menjawab lirih.

“Gue sih masih sanggup. Tapi masa iya setiap kali marahan harus gue yang ngalah. Lu ga pernah mau ngertiin gue. Lu asik sama dunia lu. Gue ga pernah diajak. Selalu aja Lala atau Rose yang lu perhatiin”, jawaban Dela sungguh membuat Rizky mengerutkan kening. Lala? Mengapa cewek itu dibawa-bawa. Apa karena semalam dia ikut dalam acara makan-makan? Ah, dirinya memang tak pernah mengerti pemikiran Dela.

“Kenapa musti bawa-bawa Lala?”, ujarnya diusahakan setenang mungkin. Dia takut Dela akan meledak sehingga permasalahan akan meluber kemana-mana. Dan benar saja, ekspresi Dela seperti siap menerkam orang.

“Gue ga habis pikir. Lu selalu aja ga pernah ngabarin gue kalau pergi. Lu juga selalu ajak Lala. Kenapa Lala boleh ikut lu tapi gue bahkan dilupain?”, setengah menjerit Dela melontarkan unek-uneknya. Mau tak mau emosi Rizky terpancing.

“Emangnya gue harus setiap detik laporan keadaan gue. Gue berasa sersan yang harus selalu laporan ke komandan tau. Lu pikir enak kayak gitu?!”, tanya Rizky dengan nafas yang memburu. Sudah tidak akan beres berbicara dengan keadaan seperti ini, yang ada hanya debat kusir. Tak berujung pada mufakat.

“Terserah lu aja deh gimana”, akhirnya Dela pergi berlalu begitu saja membereskan peralatannya yang berserakan dikamar kosan itu. Dela pulang seorang diri padahal saat itu hujan sedang turun membasahi bumi.

x-x-x

Dela membiarkan matanya basah. Hujan yang turun menyamarkan airmatanya. Hatinya benar-benar terluka. Dia merasa tersisih. Lagi dan lagi. Karena Lala, mereka bertengkar. Karena ada Lala, Rizky lebih memilih untuk bersamanya. Mungkin rizky lebih cocok dengan Lala. Dela harus mengakui itu. Sayup-sayup hatinya bersenandung kecil. Lagu yang senantiasa terngiang olehnya disaat berkelahi dengan Rizky.

Mungkin memang nasibku

Yang selalu menunggu untuk jadi yang pertama.

Mungkin ku katakan kepadanya

Bahwa aku juga milikmu

Bahwa aku juga kekasih hatimu

Dengan lirih Dela berkata “Aku memang milikmu, tapi kau sia-siakan aku. Aku juga milikmu, tapi kau lebih dekat dengannya. Aku juga milikmu, tapi kau selalu membiaskannya”. Dan lagu cemburu dari Dewa itu terus terngiang-ngiang. . .

broken heart..

October 12th, 2011

Hari ini aku menangis lagi…

Bukan hal aneh kalau kita nangis bukan? Tapi menjadi suatu hal yang sangat menyakitkan ketika kita tau orang yang kita sayang itu membuang kita segampang dia nge-remove facebook kita. Kita ga bakal tau gimana rasa sakitnya sebelum kita ngalamin kehilangan dia.

Dan aku pernah kehilangan dia

Seolah satu kali belum cukup aja. Aku ngerasain berkali-kali. Pertama pas ibunya dengan terang-terangan nolak keberadaan aku yang dia pikir aku cm cewe jalang. Saat itu aku hancur. Lebur. Ibarat kata aku jatuh, aku ada di pusat bumi mungkin. Intinya ga ada yang bisa aku lakuin selain meratap dan meratap. Hebatnya berat badanku yang tak pernah menurun sejak lahir, tau-tau aku sudah kehilangan 10 kg. Dan semua itu karena ibundanya. Lalu menyusul orangtua gue sendiri yang abis-abisan marahin gue soal dia. Karena menurut mereka, buat apa nangisin orang yang udah nginjek-nginjek gue. Ga seharusnya gue ngarepin restu dr ibundanya yang ga percaya sama gue. Aku nurutin semuanya. Aku menangis hanya disaat aku memerlukannya. Ketika dia mulai berbohong padaku. Ketika dia mengacuhkan hadirku. Ketika dia memilih teman-temannya. Ketika dia yang kupikir memilih princess.

Lalu aku kehilangan dia lagi

Saat aku beranjak dewasa, disaat kita mampu dengan baik saling menghargai dan memahami, gelombang kehidupan memisahkan kita. Dia wajib ke Bandung, tempatnya menuntut ilmu. Tempat dia harus mengarungi keilmuan berikutnya. Sedangkan aku masih terlunta-lunta tanpa harapan pasti dimana aku berada. Yang ku incarpun hanyalah di Bintaro yang masih sangat jauh jaraknya. Aku mencoba bersabar dan menerima semua itu. Memang bukan jalanku mungkin. Masih sangat ku ingat tiap detailnya beberapa hari sebelum dia berangkat kesana. Dia datang padaku, memeluk tubuh ini dengan sangat erat sehingga yang kurasakan adalah ketulusan hatinya dan hangatnya rasa diantara kita. Dia mencium keningku. Dia memegang tanganku seolah dengan begitu aku akan terbawa olehnya selamanya, sampai akhir hayat kita nanti.

Dan lagi lagi aku kehilangan dia

Ajaib dan surprise banget aku mampu menginjakan kaki ini di Bandung. Tempat yang sama dengan dirinya. Aku akan masuk sekolah pariwisata, keilmuan baru yang akan merilekskan otakku. Memikirkan bagaimana pariwisata Indonesia. Membuatku sangat senang dan nyaman. Tanpa fisika. Tanpa rumus-rumus. Bukan aku bosan. Tapi itu terlalu pasti. Hanya punya satu jawaban sedang yang lainnya salah. Aku, aku hanya seorang manusia yang sangat suka berspekulatif. Aku pantas di pariwisata yang bermain prediksi, yang menerka-nerka. Hal ini berarti aku satu kota dengannya. Namun syarat aku berada disini adalah aku tidak boleh mengontaknya. Berat sekali rasanya. Sesak sekali merasakannya. Inilah perjuangan aku untuk bersembunyi darinya. Lalu, voilaaa, kampus nan kejam ini tidak ngijinin bawa HP selama 4 hari. Oh God, pasti tersiksa banget. Itulah awal keretakan yang ada dikisah aku dan dia.

Maka aku kehilangan dia kesekian kali. . .

Kenapa aku begitu mudahnya dijauhkan darinya –dari dia yang aku sayang? Mungkin memang kita tidak sejalan. Lantas kenapa aku ada di Bandung bersamanya? Mengapa aku masih dapat menemuinya? Mendapatkan kembali kontak dengannya? Berjalan lagi dengannya. Dan senyumku ada lagi karenanya. Bersamanya terasa lengkap sudah hidupku. Tak peduli jarak kami dari ujung ke ujung. Tak peduli bahwa aku punya berbagai kegiatan. Aku hanya peduli padanya. Aku hanya fokus ke arahnya. Itulah yang menyebabkan kehilangan ini. Karena dia tidak bersamaku. Dia tidak mengerti sepenuhnya. Dia menyimpan segala sesuatunya sendiri, lantas untuk apa aku berada disampingnya. Aku merasa tak ada keperluan aku lagi dengannya. Dan tadaaa, dia melepaskan aku , membuang segala hal tentangku, mendiamkan aku dengan sikap judesnya. Aku? Aku menangis sepanjang detik menyesali perbuatanku. Menyesali keputusanku yang terlalu cepat karena aku mati tanpanya. Aku bukanlah apa-apa tanpa dirinya. Tak ada lagi tangisnya untuk menahanku disisinya. Akulah satu-satunya yang menginginkannya. Dia lelah, aku menyerah.

Akhirnya lebih baik aku menyiapkan diri untuk kehilangannya :(

Sekarang semua itu berulang kembali. Akibat senyumku pada kawan-kawan yang sudah mempersiapkan segala surprise’a untukku. Tapi dibayangannya, aku membuang dirinya. Mau maki-maki rasanya. Hanya saja untuk apa memakinya? Apakah dia mengerti betapa perjuangannya diri ini mempertahankan dia. Dia mengertikah bila ku bilang aku menelan pil pahit seorang diri karena tidak ingin dia terluka terbebani. Aku mempertanyakan dirinya, apa ada sedikit simpati atau empatinya melihat keadaanku. Bukankah dia tahu aku sama dengannya yang punya masalah yang harus diprioritaskan selain frame senyum kepalsuan itu? Jika memang dia percaya topeng itu, silakan menjauh sesukamu. Aku hanya ingin orang yang kusayang percaya padaku. Dan kalau yang terjadi sebaliknya, mungkin aman untuk hatiku bila melihatmu dari kejauhan saja. Jika berdekatan akan sangat menguras hati dan tenaga karena hubungan dua insan itu sejatinya atas dasar cinta, percaya dan terbuka.

Aku sudah mempersiapkan diri. Menyediakan stok airmata secukupnya. Menguatkan hati setegar-tegarnya. Dan menyimpang barang-barangnya. Mengenang kejadian bersamanya. Tanpa harus menoleh kebelakang kembali. Aku akan merelakan dia pergi jauh dari hidupku. Dan aku akan melanjutkan impianku serta hidupku yang mungkin telah mati. Tapi aku bisa. Aku hanya perlu mempersiapkan semuanya.

Maaf dan terimakasih atas kebaikanmu untuk mencintaiku

Aku bukanlah makhluk sempurna yang ada dihidupmu, tapi kisah kita sudah sangat menyempurnakan hidupku. Sayang sekali, jalanku bukan jalanmu. Dan kini kau meninggalkan aku. Aku mengikuti saranmu, melanjutkan hidupku… Semoga disana kau mendapatkan yang kau inginkan, kau impikan, kau harapkan :)

Love you aijin, just want you to know…

The child just crying…

September 23rd, 2011

“Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masaaa…”

Mungkin lagu ini masih belum teraplikasi dengan baik dikisah yang bakal diceritain ini. Mulai dr awalnya aja yah, walau rada” ga penting, tapi baca aja dulu.

Semalem, berhubung aku anak rantauan dengan nasib yang tragis setelah 4 hari makan serabutan, aku diajak buat makan nasi sebenernya. Oke oke aku tau kalau serabutan tuh biasanya identik dengan kerja serabutan, tapi kondisi aku yang memegang duit 2 ribu sepanjang hari dan cm cukup buat ongkos menjadikan aku makan seadanya. Kue kering dimakan 3 biji per harinya, atau minum kopi. Karena Cuma ada itu doang dikosan, hiks *berkaca-kaca.

Eh tapi ternyata, ditengah perut yang mulai nge-mix dangdut, keroncong dan disko akhirnya mataku nemuin beras teronggok bagai berlian ditengah padang pasir. Lalu munculah ide untuk dimasak. Tapi aku ga sanggup buat beli yang lainnya (mksudnya lauk). Alhasil mau bikin bubur dan membayangkan bisa dicampur sm lada dan kecap yang available dikamar. Maka kirim sms deh ke mama gmna cara bikin bubur. Katanya airnya tambahin aja, malah klo bisa sebenernya tinggal masak kaya biasa tinggal nambahin santen, daun salam dan lengkuas lalu voilaa jadilah nasi uduk. Siapa yg ga tergoda, tapi apa dayaaaa uang tak ada.

Trus mulai deh dimasak, sambil nunggu mateng smsan tuh ama emak. Dia bilang suruh siapa tinggal jauh dr mama, ga bisa makan enak kan. Astagaaa, anaknya lagi kelaparan parah dan tergolek tak berdaya dibilangin begitu coba. Apa berhenti kuliah aja yaaa??? *devil whispers.. Menunggu dan menunggu, akhirnya mateng nih ceritanya. Pas dilihat, oh-my-God.. Bete setengah mati dan kesel. Masa iya ada kejadian bikin bubur jadi nasiiiiii ! Sekali lagi sodara-sodara, BUBUR JADI NASI.. dimana-mana terkenalnya tuh nasi terlanjur jadi bubur. Kenapa oh kenapa dikisahku bubur jadi nasi?! Sedih dan hancur hatiku.

Nah oleh karena itulah aku memutuskan mau aja, asal bisa ketemu nasi. Mana sepertinya feeling bilang sih dikasih telur, hmm yumyum banget diotak. Selang beberapa menit kemudian teparlah aku. Perut bergejolak asmara dan pusing. Jadi ga enak deh. Teteh cuma asik sama Hpnya, trus mas’e jg asik dgn nasi dan telur. Yauda tuh aku diem aja. Teteh naiklah ke atas. Aku dihidangkan nasi+kecap juga telur sama c mas’e-nya. Suapan demi suapan dipaksa masuk. Lalu tiba-tiba bunyi pager kya dipukul. Lari lah si mas’e, balik-balik bopong cewe yang nangis kejer dan ke atas minta dirawat teteh. Masih dengan tampang cengo bin oon, aku cm ngeliatin aja.

Makan jadi ga selera ada ribut” gini. Trus dateng deh cewe satu lagi. Mas’e turun dan bilang kalau ada masalah anak geng B. Ya ampyuuuun again dan again. Itu perkumpulan kenapa ga bosen cari masalah dah. Padahal yah aku udah berestimasi kalo ada juga beberapa yang bener dan baik. Aku jadi sangsi, mungkin yang baik itu cm satu diantara seribu kali yah. Mas’e ceritanya berbelit-belit, jadi aku cm nangkep ada cowonya cwe tadi dateng tapi langsung dipukul pake besi, vespa ancur diinjek”, cewe td yang ternyata masih bocah tapi udah nakal dan ketauan pelukan jd dimarahin terus ada keributan parah didepan gang sempit ini, kaya rame” mau ada konser gitu *lebay mas’e aja itu sih. Ah entah deh campur aduk. Kepala cenut”, jadi sms Puji aja. Dia bingung aku knpa sms cm manggil nama dia doang. Aku jg bingung mw ngomong apa *speechless.

Eh lagi kebingungan gitu, terdengar backsound teriak-teriak penuh emosi dan untungnya aku ga terlalu ngerti krn pake bahasa sunda. Cewe yang terakhir naik itu akhirnya turun dengan mata sembab dan ngomong “Susah, udah begitu otaknya”. Aku dan mas’e pandang”an, bingung harus apa. Tapi mas’e jadi penengah dan naik ke atas. Lalu si cewe yang digotong” tadi turun bareng teteh. Alamak, ni anak nangis 3 hari apa ya, sembaaaab banget kaya ga melek krna matanya bengkak parah. Teteh duduk disebelah aku dan aku diem aja. Akhirnya teteh yang ngerti situasi ama si mas’e ngbrol lah panjang lebar. Kali ini ga acak”an ceritanya, jadi aku bisa ngrangkai puzzle behind the scene’a.

Jadi c neng (cwe yg dbopong” tadi) itu marah sama dea (cwe yg turun” nangis), udah gitu abi (cwo yg brantem diluar sana *kakanya neng) juga naik pitam. Neng itu nakal, kata tetangga sekitar, mainnya sama Selly dkk, padahal di geng itu katanya mah ada yg udah hamil duluan, kasarnya pergaulan mereka ga baik, apalagi Neng jg temenan sama anak geng B yang terkenal suka ribut”. Dea cm ga mau klo Neng ngalamin hal serupa kaya dia, Dea kan hamil duluan walau sekarang udah resmi nikah sama Abi. Dea pasti panas banget kupingnya karena dia sering digunjingin, dan cm pae celana pendek aja langsung disuruh jangan pernah pake lagi klo keluar. Tapi Dea salah cara ngasih taunya ke Neng, dia nampar pipi Neng didepan temen”nya pas Dea nyamperin Neng buat nyuruh pulang. Dea makin marah karena mikir Neng ngapa”in soalnya Neng pas berangkat ga pake baju yg dia pake sekarang *ganti baju gitu.

Abi yang tadinya ga mau marah jadi naik pitam karena pas Neng akhirnya pulang ada tetangga” usil yang ngadu Neng suka ngerokok, Neng ginilah gitulah, pokoke yang jelek”. Alhasil Neng dimarahin. Tanpa babibu lagi Neng diangkat trus dibanting, Abi bawa” besi -yang kemungkinan besar dari vespa yang sempet diinjek-injek Abi- terus mau mukul entah siapa, ga tau si Neng’a atau temennya Neng yang sok jagoan itu. Saat itulah Mas’e datang ngeliat Neng terkapar, makanya langsung dibawa menjauh dr si Abi. Cowo sok jagoan anak geng B itu badannya kecil tapi sok”an mau nonjok Mas’e yg lg jalan. Tapi namanya juga dia cm bedua ama temennya, si cowo jagoan itu lari ngibrit ngeliat dia kalah pasukan –soalnya temen” abi dateng siap tempur-. Ga keren dong kalau kabur gitu aja, dia janji bawa pasukannya juga. Jadi kemungkinan besar ada pertumpahan darah.

Aku dan teteh ngobrol” nenangin Neng. Dia masih juga ngelamun dan sesekali airmatanya jatuh. Aku kasian ngeliatnya. Dia baru aja naik kelas, sekarang kelas satu SMP. Dia ngancem mau bunuh diri, jadi sebisa mungkin kita nenemin dan jauhin dia dari benda-benda tajam. Teteh yang tadi sempet ngedenger banyak diatas dr ocehan Dea versus Neng, mulai nanya” singkat. Pertama nanya kepalanya ga kenapa” kan? Lalu Neng yang sedetik lalu udah tenang, cerita tntang kejadiannya.

Kepala Neng sakit teh. Udah lama sebenernya, tapi jadi tambah sakit gara-gara tadi. Soalnya tadi kebentur.

Ama teteh ditanya lg, sejak kapan sakitnya dan kalau sakit kerasanya apa. Neng jawab :

Neng kalau sakit kepala sering, tapi mama cuma bilang “ah gitu doang”, padahal sakitnya ke telinga sama mata. Neng… (sesegukan lagi) Neng sakit gini sejak dijambak teh.

Pas ditanya siapa yang jambak, apakah si Abi –kan tokoh antagonisnya dia-, jawaban Neng bikin aku dan teteh bengong.. Dia jawab……

Sama mama waktu itu. Emang Cuma sehari, tapi mama berkali-kali jambaknya (sambil meragain lalu dia nangis kejer lagi). Gara-garanya Neng nanya dimana telur, tapi mama diem aja ga mau jawab. Cuma peduli ke keket (kakanya Neng). Terus mama marah deh, jambak-jambak Neng seharian, huhuhuhuhu :( :( :(

Astagfirullah banget deh dengernya. Udah kakanya yang temperamen, ternyata penyebab sakit kepala si Neng tuh mamanya sendiri. Astaga, MAMAnya loh! Mana Neng jadi sering sakit kepala, apa dia kenapa-napa yah? Oh tuhan, tiba” terlintas gue bakalan bikin LSM atau badan perlindungan anak. Atau yang lebih konyol aku mau cari nomor Kak Seto *ada yang punya? Lalu ditanya lagi kenapa ga diperiksa, nah ini penuturan Neng selengkapnya yah :

Waktu itu Neng pernah mau diperiksa, tapi uangnya dipake keket (lagi” kakanya, kesel lama” nih). Cuma bapak yang baik sama Neng, Keket juga sebenernya. Tapi dia kaya seneng kalo Neng dipukulin sama Abi. Keket ga pernah nolongin Neng, dia Cuma diem aja ngeliatin. Waktu Neng kabur dan lari ke kamar mandi, disitu kepala Neng dipukul lagi sama Abi. Mama tuh tau waktu pertama kali Neng ditampar, tapi mama ga ngelarang. Bapa yang lagi kerja langsung telpon (bapanya Neng kerja diluar kota), terus Bapa nanya Neng diapain. Neng padahal ga ngadu. Tapi dituduh sama Abi, makanya dia marah lagi ke Neng. Sejak itu Abi berani buat mukul Neng.
Neng tuh tadi sebenernya takut pulang. Makanya diem aja dirumah temen. Neng ga ngapa”in kok disana. Terus teh Dea dateng dianter Selly. Dia dateng-dateng langsung nampar Neng didepan temen-temen. Bapa aja yang keluarga Neng ga pernah mukul Neng, kenapa teh Dea nampar Neng? *nangis sesegukan lagi dan kejer..

Ya tuhan, kasian banget si Neng ini. Dia ga pernah bilang” kalau dia dianiaya semua orang *kecuali bapanya. Dan dia dieeeeem aja, karena dia ngerasa itu keluarganya. Sedangkan pas Dea yang notabene cuma istri kakanya (masuknya kaka ipar ya?) berani-beraninya nyiksa dia juga. Neng ga terima, ya jelaslah, dia dianiaya semua orang gitu! Dia dinomor belakangkan. Wajar rasanya dia ga mau pulang dan ga betah dirumah. Ketimbang jadi samsak buat kakanya. Lanjut ke cerita Neng…

Abi itu emang pemarah. Waktu itu sempet mau cerai sama teh Dea, terus teh Dea dicekik sampai hampir mati. Mama juga di anj*ng-anj*ngin sama dia. Mama ga berani buat nahan abi kalau marah. Bapa juga sama. Bapa pernah kok liat mama jambak Neng, tapi bapa cm diem aja. Neng ga disayang siapa”. Makanya Neng kabur. Neng ga betah dirumah. Neng pernah coba bawa aja temen kalau emang ga boleh keluar buat main. Tapi masih aja Neng dimarahin. Mama cm peduli sama keket aja. Abi begitu. Bapa jarang dirumah. Neng juga jarang ngobrol sama bapa…

Teteh narik nafas panjang. Neng masih berlinang airmata, mungkin 5 menit lagi banjir nih. Teteh ngasih saran buat Neng beraniin diri ngomong apa yang dia butuh. Dia harus bisa ungkapin apa yang dia harus lakuin. Neng juga lebih baik coba dulu diem dirumah jadi anak yang nurut kata orangtua. Kalau masih belum ada perubahan dari keluarganya, Neng harus berani ngomong buat kelangsungan hidupnya juga. Ga lucu kan kalau amit” banget nyawa ampe melayang karena masalah ini. Tau” teteh berubah mimiknya dan aku nengok.

Aduh bayinya pengen ikut diajak ngobrol. Ga bisa diem… kata Teteh

Mataku yang ga tau malu ini ngeliatin perut teteh. Emang udah termasuk gede ni kandungan. 4 bulan mungkin. lalu teteh cerita…

Iya Mar, bayinya udah mulai ga bisa diem. Kaya ada kepalan yang ganjel (sambil meragain kepalan tangan yang mau nonjok gitu). Kan sakit tuh diperut. Kadang kalau diusap-usap baru anteng. Emang kata orang mah anak cewe ga bisa diem. Kemungkinan sih bayi teteh tuh cewe, tapi ga tau juga, yang namanya USG kan bisa aja salah.

Dan yang sepenglihatan aku emang teteh kesakitan. Jalan kaya kepiting miring”, mungkin kaya nimang-nimang perutnya yah (kan bayinya masih diperut). Dan teteh meringis-meringis gimana gitu. Aku ngerasa terjepit di dua suasana. Pengen teteh ga kesakitan gitu dan pengen bikin Neng ketawa lagi atau minimal senyum deh. Atau setidaknya merasa tenang deh. Terus aku liat Neng, dia kejap-kejapin mata tuh. Kayanya sih sakit matanya, orang nangis puas banget gitu. Aga” ngeri juga kalo darah yang keluar kan. Nangis darah dong??? Setelah beberapa ribu detik berlalu, akhirnya Neng tenang. Yg ga tenang adalah nurani ini yang pengen banget ga ada lagi kejadian kaya Neng harus terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga ini yang bisa bikin masa depan anak hancur, pait” banget klo smpe nyawanya jg harus melayang, amit” juga klo luka yg dia alamin bikin cacat permanen. Ayolah orangtua dan calon orangtua, dan siapapun yang bakal jadi orangtua, kalian harus bisa membina keharmonisan dan kehangatan keluarga. Karena kemana lagi kita berlari ketika tidak ada tangan yang terulur untuk menjaga kita kalau bukan keluarga?

Siapapun yang baca ini doakan aku untuk bisa bantu Neng dan mewujudin bikin badan hukum yang melindungi Neng dari KDRT, juga Neng-neng lainnya. Semoga keluarga kita termasuk yang sakinah mawadah dan warohmah yang didalamnya terdapat senyum hangat orangtua serta kerabat kita :)

Lebaran :D

September 1st, 2011

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR BATIN

Selamat Idul Fitri 1432 Hijriah :) :) :)

Wah tak menyangka yah, Alhamdulillah masih sempet nuntasin ramadhan taun ini, meskipun jebol sekitar seminggu :( hehehe , maklum lah yah, namanya juga perempuan, ada cutinya :p

Lebaran tahun ini ga asyik gitu. Karna banyak perbedaan penglihatan hilal dr berbagai oknum, jadi aja kepecah. Ada yang lebaran tanggal 30 Agustus ada juga yang 31 Agustus. Knpa bisa begitu? Gini, kan pemerintah pada lamaaaaaaaaaa banget nentuin’a, kelamaan “adu ilmu”. Kalau ngeliat jalan’a rapat mereka, jd greget deh. Bersumber pada ajaran Allah tapi penafsiran beda” (ya wajar sih) , tapi malah asik sndiri. Padahal yg nungguin keputusan itu seluruh Indonesia loh. Yg bagian timur apa kabar coba?!  Akhirnya, yg uda mau ngadain takbiran akbar, malah pada ga terima dan bikin rusuh (Indonesia banget deh). Kenapa kalau kecewa malah ngerusak benda umum???

Imbasnya di keluarga kecilku di Jakarta adalah sebagian dr bude”ku ga dateng deh :( Tadinya cuma ada bule dan bude Ina aja. Nyusul bude Sum yg masih puasa, dan akhirnya harus buka lah. Kan org sekitarnya uda berlebaran. Nah repot tho? Haha. Yasudahlah. Bude iyem ada di Pacitan, cm nitip angpao. Bude Nani besok datengnya. Untungnya aku nginep, jadi bisa ketemu deh. Cuma ya gitu, jd aga gimanaaaa gitu.

Mana pake ada dramaking segala. Si Naufal jailnya amit” cabang bayi, -padahal dulunya imut” pas bayi-, isengin Mba Susan tuh. yoda, rusuh aja mereka. Uda jg ade kaka pada saling ngejatuhin. Nopal, Adid, Hukma dan Hilwa berantem rusuh sana sini. uda pada gede ajegile rusuhnya dah.. Tapi berhubung Hilwa masih kecil dan masih imut”, jadi aku main’a sama dia aja. Cm ternyata dia berkhianat -duileeee- dia gigit aku krna aku dekep, hahahaha.

Nopal tuh akhirnya dtangisin Mba Susan, entah diapain. Ujung”nya nopal menyembunyikan diri di kamar mandi. Yg kasihan si Hilwa kebelet. Tu anak kan pemalu banget, meskipun kelakuan aga malu”in juga. Dibujuk” baru mau diluar, dgn segala macem rayuan. Abisnya nopal ga mau keluar”. Mbah Akung udah bujuk”, ga mempan.

Emaknya ngamuk”, dia ga keluar juga. Diancem segala macem ga mau keluar. Naha teuing, betah banget di kamar mandi. Dan sampailah pada Hukma kebelet buang hajat, hahahahaha. Uda diujung tanduk gitu. Teriak”, ngamuk”, marah”.  Astaga ini dramaking bakal ngancurin rumah nenek kakek gue ini -_-

Aku turun tangan deh. Aku bilang semua bakal pergi, ninggalin dia sendirian. Aku bilang aja ati” ada yg nyolek, haha. Tengok kanan kiri aja deh. Dia bilang bodo amat, lah apalagi gue!! Hahahaha. Pas ditinggal bentar, ada bunyi pintu dibuka. Kamal langsung sigap dobrak, nyuruh Hukma masuk. Aku tinggal geret si makhluk dramaking ini ngejauh dr pintu. Terserah deh mau kejepit, biru” atau legam, hahaha. Yang penting tidak ada dramaking lagi!!

Udah gitu aku smpet update twitter tntang Hilwa. Atuh lagian masa naksir ama Mas Indra. Notabene dia sepupunya sendiri dan Hilwa baru 4 tahun sodara”, sedangkan mas indra 21 tahun! Oh God. Malu” kucingnya itu loh, masih polos banget”. Ya namanya juga bocah, ehmm, balita! Ilma sama Koyo ampe koment dari twit, mereka ga percaya. Coba kalian bisa lihat, pasti ngakak. Dasar Hilwa. Sayaaaaaang sekali ga ada acara foto”, yg emang jarang banget ada, jadi cuma bisa dokumentasi via blog ini dengan ketikan ini :D

Tapiiii krna aku ditinggal ama si kamal, dia rewel banget pengen pulang pdhal panasnya olahlahlah deh. Udah mana ternyata dia cuma pengen OL doang lagi -_- ampuuuun gusti.. Aku sempet tuh ke ITC dulu mau beli tempat minum Angry Bird, tapi tutup tokonya. Padahal yah, itu jauh banget dr rumah. Demi angry bird, huaaaah. Ujung”nya cm numpang buang air kecil deh, hoho. Pulang” keliyengan dan ngidam (masih) mie ayam. Aku twit tentang makanan yg aku idamin. Eh mba Mia bilang aku bales dendam, pdahal tu makanan kaga ada di depan mata.

Dan setelah melalui banyak kegiatan, pemikiran dan segala kendaraan akhirnya aku tumbang. Sore’a aku pusing. Malemnya berubah jadi demam tinggi. Menjelang tengah malam, keringetan parah. Pagi sampai detik ini nulis , aku sakit kepala dan lemes. Mudah”an, bukan DBD yah. Banyak nyamuk zebra cross drumah dan telah menggigitku. Alias nyamuk DBD itu tuh, atau malaria yah. Ya apapun tapi dia belang” item putih deh. Oh Tuhan, cpet” ke setabudhi no. 63 yaaa . Klinik aku disana beradaaaa :D

Sekian cerita hari ini dan kemarin dan 2 hari yg lalu. Tengkyuuuu…

sosok itu…

August 4th, 2011

Tangerang, 23 Juli 2011

Sosok itu…

Tak pernah menganggap dirinya special, meski terkadang punya ucapan bernada tinggi hati yang dia ucapkan acap kali dirinya terekspose. Dia menganggap dirinya hanya manusia biasa yang mempunyai kisah hidup berliku. Yang munkin tak akan dipercayai orang lain, tapi itulah yang terjadi. Mungkinkah nada sombong itu sebuah pengalihan dari rasa rendah dirinya?

Sosok itu…

Mampu berjuang mempertahankan keinginannya. Dia keras kepala dan akan sangat gigih mengejar target. Semua cita-citanya, impiannya dan harapannya bukan hanya pemacu untuk terus hidup, tetapi sebagai tujuannya berlabuh. Sekarang dia berlayar dan diterjang gelombang. Satu harapan yang pasti, dia akan berlabuh kelak.

Sosok itu…

Memiliki ketampanan hati sehingga banyak yang menggilainya. Terkadang dia diperalat diperdaya, tapi karena keluguannya, dia tak pernah menyadari itu. Dia hanya tak rela melihat penderitaan orang lain. Untuknya, lebih baik dia yang menanggung derita itu agar orang lain dapat tersenyum kembali. Maka dari itulah hatinya memancarkan kebersihan hati yang digilai wanita.

Sosok itu…

Sangat ketakutan akan rasa kehilangan. Dia tak mau dan tak pernah mau sampai kehilangan arah. Baginya kegelapan bukanlah tak ada cahaya, tetapi hanya kurang cahaya sehingga tidak terlihat apapun. Dia akan mempertahankan miliknya agar tak mengalami bayang kehilangan yang menghantui malam-malamnya.

Sosok itu…

Selalu teguh memegang prinsip dan tegar menghadapi masalah. Tak peduli hujan, tak peduli badai. Dia tetap kokoh berdiri lalu melanjutkan perjalanan hidupnya. Dia akan mengerahkan seluruh tenaga agar mampu bangkit dari keterpurukan, untuk sadar dari alam mimpi, agar di dunia nyata dia mampu mewujudkan impiannya itu.

Sosok itu…

Mampu menutupi airmata pedihnya. Dia hanya perlihatkan kelemahan itu pada Tuhan , Sang Pencipta. Dia sangat tertutup pada orang lain. Selalu saja menebarkan senyuman getir yang dia modifikasi agar terlihat ceria alami. Dia tak ingin merepotkan orang sekitarnya, apalagi menambah beban dengan tangisan. Baginya itu cengeng.

Sosok itu…

Mempunyai banyak teman dan sahabat. Dia tak pernah pilah-pilih dalam bergaul, sehingga semua orang dari semua kalangan bisa dekat dengannya. Semua nyaman bersamanya. Semua mendekatinya. Dia bagaikan magnet pertemanan, hampir semua orang mampu berteman dengannya.

Sosok itu…

Seseorang yang selalu mandiri, tak ingin bergantung dengan siapapun. Bahkan pada orangtuanya sendiri. Dia hanya mengandalkan doa pada Sang Khalik. Dia merasa doa adalah pelipur lara sekaligus harapan baru untuk memulai kegiatan. Dia senantiasa berdoa agar tak tersesat. Dia merasa hanya kepada Tuhan-lah dia kembali. Di jalan Sang Kuasa itulah dia menapaki hari-hari. Dia yakin dengan segenap hati dirinya mampu.

Sosok itu…

Dengan senyumnya yang ceria, mampu membuat orang lain ikut bergembira. Dia bisa saja sedang memendam luka, tapi diubahnya jadi tawa. Dia (tentu) punya derita tapi dia tampak bersuka cita. Kebahagiaan bukanlah ketika dia mendapatkan yang diinginkan saja, tapi juga hasil dari membuat orang lain tersenyum.

Sosok itu…

Tak pernah menyadari betapa hidupnya sangat berharga untuk orang lain. Meskipun tampak tak peduli, baik itu ibu, ayah, adik dan kakaknya selalu memperhatikannya. Dia selama ini merasa kesepian. Tetapi itulah ajaran dari keluarganya agar dia tumbuh menjadi lelaki dewasa yang mampu menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah lain.

Sosok itu…

Menghargai perempuan dengan sepenuh hatinya. Dia tak pernah ingin melihat satu pun perempuan tersakiti. Dialah sosok pelindung. Dia rela terinjak-injak hanya agar perempuan yang dicintainya bahagia. Dia rela tidak makan agar teman perempuannya tidak kelaparan. Dia rela menghabiskan setiap malam untuk berdongeng jika itu bisa membuat ibunya tidak kesepian. Dia rela melakukan apapun, karena dia lelaki pujangga pecinta wanita.

Sosok itu…

Menghadirkan warna-warni dalam kelam kesendirian. Memberi secercah harapan. Memberi segala rasa. Menghujani cinta yang begitu besarnya. Meracuni aliran darah sehingga mata ini terpaku melihat dirinya, mengetahui kisahnya. Pesonanya membius segenap perasaan menghadirkan getar-getar halus yang menjalari tubuh. Dia bukan segalanya, tetapi dia menjadikannya lengkap. Dia bukan lilin, tetapi dia bersinar dengan senyum jahilnya. Dia bukan sosok tak bernyawa, tetapi dia mempunyai jiwa raga. Dan sosok itu kian mendekat, sangat dekat :)

beauty class

July 3rd, 2011


Holaaa, lama tak bersua my blog , maaf aku sibuk (alasan klasik :p)

Aku abis ikut beauty class loh :D perlu diulang??

A-ku i-kut beauty class!!

BEAUTY CLASS loh sodara”..

Ini semua berkat mama. Seperti biasa main daftar”in anaknya ikut sgala macem. Udah mana berangkatnya siang. Untung dkasih makan ama BC’a, klo enga, wuih klaperan aku.

Jam stgh satu kita capcus tuh berangkat dr kebun nanas atau keren’a pineapple garden, haha. Mama milih ikut yang angkot aja drpd APV, sensi ama supir yang APV. Soale kmren” hampir tabrakan di jalan tol. Nah diangkot itu, aku diem aja. Mau teriak juga ga sopan kah ya? Haha. Tapi ibu” tu heboh, biasa deh emak” ya. Aku dikira mamanya ai dong, uuh penghinaan. Aku masih single gitu. Akhirnya djelasin ama c ema, aku tuh anak ptamanya. Eeh jadi dipuji kan ema dibilang awet muda. Pengen’a tuuuh, haha. Emang sih mama ga ada kerutan banget”, orang kerjaan’a ngebanyol mulu. Tapi aku udah keburu bosen, jadi aja aku tidur djalan, hehe. Bangun” pd ribut harusnya lurus jangan kluar dlu dr tol. yauda aku bangun deh.

Dan ternyata sebelah aku anak muda. Masih kelas 3 SMA. Akhirnya aku kenalan aja. Namanya Via dr SMA swasta d tangerang. Dr logat ngomongnya sih aga” angkuh, tapi asyik aja. Yaiyalah dy satu”nya yang masih muda, bareng aku juga yah. Jd kita berdua yang masih belasan tahun, hihi. Cuma nih ya, tnyta dia jg mlm yang satu lagi. Untung aja aku udah member, soalnya dia mau rekrut member juga coba. Haha. Ga tertarik euy. Oia Via tuh aga Chinese. Jd putih bersih seperti kebanyakan.

Akhirnya debat sana sini si supir, mba risma, keneknya juga bu nauli membuahkan kita sampai dtempat tnpa kurang apapun. Gedungnya emang khusus itu doang, skitar 10 lantai gitu. Pas masuk, kirain mah naik lift, eh naik tangga. Demi apa lo, klo cm slantai dua lantai sih oke. Nah klo acaranya gedung paling atas? Tapi syukurllah, betis ini lolos dari penyiksaan karena cm satu lantai doang tnyta. Padahal kita udah telat, tnyta panitianya labih telat lagi. Huaaah, cape euy. Abis itu aku jadi ngbrol” aja deh sm Via. Trus smpet nanya jg kke mba risma tntang tas inceran aku. Ungu loh. Ngmong” soal ungu, aku punya cs-an. Tante nenden. Dia juga sukaa ungu. Tadi aja kita sama” naksir pashmina ungu pas di BC, haha.

Jeng jeng jeng jeng jeeeeeng,

akhirnya pintu dibuka dan kita masuk. Mama, bu Nenden, mba risma dan ibu kudung biru duduk bareng sedangkan aku sama via disebrang mereka. Klo yang lain” ada dblakangku dang a penting jg krna ga kenal aku. Dr tampang jg malesin buat knalan, kyanya fashionable banget gitu. Kan aku nol banget, haha.

Masuklah seorang apa yah disebutnya, pembimbing bukan, oh iya instruktur. Cowo sih. Lupa namanya. Radit atau siapa lah. Umurnya mungkin 35 keatas (klo lbih muda maaf ya, factor wajah kan aku nebaknya). Galak sih enga, cm repot aja litany. Nyiapin alat” sndirian. Udah gitu aku pake terpukau segala ngliat palet make-up. Maklum cm taunya di dandanin doang. Udah gitu pas dtanya siapa yg mau jd modelnya, heboh dah nunjuk aku. Arrgh, apa cm gw satu”nya yg ga bisa dandan?! Ugh, sial, jawabannya ya. Via bisa lah, orang kyanya gaya banget. Tapi, aku beruntung, instrukturnya mau yg bpengalaman ikut beauty class. So, ibu haji yg maju. Lucunya, pas dsuruh buka krung, aga ragu cm dlepas juga. Dia blang gni “buat kita” apa sih yg enga, hehehehehe”, iiih aku dngernya males deh. Kaya apa yah, norak gitu. Mana cengengesan mulu lagi.

Yauda tuh, dimulai dari bersihin muka. Aku dapet ilmu pertama, yaitu klo bersihin wajah dari bawah ke atas. Biar mukanya ge keriput eh biar ga kendur. Lalu pake base make-up (wuih masih inget ni aku namanya). Setelah itu pake pondation. Nah buat yang wajahnya berflek atau jerawat atau ada item”nya, maka pondation dcampur conseler (bodo ah salah ngetik juga) perbandingannya 2 : 1. Agar wajahnya tertutup kliatan kinclong. Susahnya, aku pake pondation itu ketipisan. Alhasil nanya si om radit itu deh. Yauda tuh lanjut, ke pemakaian conseler atau shading atau apapun itu lah buat dbawah mata. Kan mata panda banget kan cewe. Jadi tutup dulu lah ya.

Kita pake blush-on dulu. Biar pada kreatif, pake dr lipstick. Oia penting nih, pake pondation ampe tahap akhir ditepuk” ya, karena biar ga pecah dan merawat kulit kita juga. Alhasil tepuk terusss. Aku pake blush-on untuk kulit hitam jd pake lipstick warna coklat gmna gitu. Kemudian, kita ke shading hidung yang dibilang om radit mancung ke dalem, haha. Dsuruh tutup pake lipstick juga dong. Dari pangkal alis, tarik lurus sampe depan hidung. Nah itu untuk yang mancung dalem, klo yang mancung luar mah dr spertiga alis.

Setelah itu pake bedak tabur. Krna kita ga dkasih spons, dsuruh pake yg ada di bedak masing”. Si om radit itu bilang gini, “ayo ibu’ pake spons dr bedaknya aja yah. Bukan cwe klo ga bawa bedak”. Jleb, asli nusuk. Beteee, gw cewe kali mas! Haha. Nasib lah ya, ga bawa bedak ciiin. Bisik tetangga deh ke mama. Pinjem ;p hehehehe. Tapi mba risma yg well prepare banget, minjemin ke aku. Akh, tengkyuuu J btw, palet yang dpake aku dan mba risma jg pnya dy, bukan dr sponsor. Masih mulusss, hehe.

Lanjut ke bedak yang apa yah kmaren dsebutnya. Jadi bedak tabur yang dpadetin itu kan namanya compact. Nah klo yang bedak padet, hmmm, lupa euy. Katanya klo kita putih pake yang ujung kanan, yang sawo pake yang kedua dari ujung kiri, yang hitam pake yang ditengah keduanya. Aku pake yang sawo mateng aja deh. Tepuk lagi. Pegel deh. Setelah itu klo ga salah pake alis mata, digambar. Aaargh sangat tidak enak. Krna alis saya tidak adaan, haha. Gambar dr spertiga alis ke belakang dgn ujung dimelayangin terus baru deh sisanya dimasuk gambarnya. Peke entah apakah yang warna coklat, ga blh item, entah knpa. Tapi buat yang tebel alis, pake sikat mascara kering diusap” gitu. Hmm, kita ke eyeshadow. Pake warna terang. Berhubung tema mau ke pesta. Mau sih dselarasin sama baju, tapi baju ijo toska gini, masa pake wrna itu, ogah jalan deh. Akhirnya aku pilih abu” dan putih. Modal berani aja, haha. Terus ujungnya pake warna ungu campur abu”. Bingung kan? Sama!! Aku kan modal nekat => alibi, haha.

Abis itu yang susah dan bikin mau nangis, pake eye liner. Cara udah dkasih tau, tapi ga ngerti. Akhirnya aku nekat lagi. Mencoba. Kalo ga gitu kapan bisanya juga kan. Yauda tuh aku pake. Weleh mau nangis. Bisik” mba risma minta pakein, haha. Cm berhubung kurang tebel, jadilah si om radit itu yg makein. Kok enak yah ga perih, uda ahlinya sih. Terus dia suruh bandingin ama yg aku bikin, hihi. Ya jauh dah menornya. Aku coba tebelin. Belum smpe situ aja penderitaan aku, yg bawah pun hrus dipake stgahnya, haduuuh :z

Lalu makan snack dulu, ada tahu, risol, kue lumpur jg aqua. Sebelum pake lipstick kan makan dulu. Cm bentar nih makan’a, lanjut pake mascara gitu. Cm berhubung aku baruuu banget pake, minta pakein lagi ke mba risma. Dan dijepit dulu pake pelentik gitu”. Trnyata aku diliatin si om radit, jadinya dia yg makein, nah caranya tuh ditarik gitu, eh gmana yah nyebutnya. Pokoknya jadinya tebel banget mana waterproof pula. Kan serem ilangnya kapan tuh. Terakhir pake lipstick yang warnanya sexy berry, merah yg soft tp bukan pink loh!!

Voilaaa, siapa nih dikaca. Dandan sendiri nih, lumayan cantik. Udah deh pada senyum” dan foto”. Kmbali ke ibu haji yg dpakein pashmina ungu yg td dtaksir aku dan tante nenden. Bahagiaaa banget tu ibu”, ampe pengen dbawa pulang tu kudungan. Cantik juga kok, hampir kya mama dedeh. Terus pada keluar dgn dandanan yang waaah. Foto” deh, aku jg ada loh foto sm tante nenden. Ntar dcoba d attach. Cantik” jg :p

Pas pulang , balik lagi k angkooot. Djalan ada bau” ban kebakar gitu. Terus kita balapan ama krl, kereetaaaa, hehe. Love it! Tapi tau” angkotnya belok buru”, dan berenti dan berebut keluar. Aku bingung tp ikut kluar. Udah hampir malem, duileee tu mobil berasep. Berasep parah, haha. Kaya mau meledug serem. Jadinya jauh” deh. Aku dnger karburator atau radiator atau gladiator lah kering jd perlu air. Tapi sayang sekali ga ada satupun mobil yg mau berenti bwt nolongin. Parah. Cm kita jadilah naik lagi, berhubung air masih kurang kita k pom bensin. Ibu” sibuk telponan. Untunglah ga berasep lagi. Maka pulanglah kita dgn selamat tnpa asap”. Hihi

See you my blog :D